Olahraga

Match Fixing, Skandal yang Ancam Mimpi Persikasi Tampil di Liga Profesional

CIKARANG, ilookbekasi.id

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia – Kabupaten Bekasi (Persikasi) tersangkut kasus pengaturan skor (match fixing). Sialnya, skandal ini terkuak saat tim berjuluk Bendo Item ini tengah dalam performa menanjak. Terlebih, mereka sedang mengejar mimpi masuk ke Liga 2.

Dalam dua tahun terakhir, Persikasi tengah dalam tren positif di Liga 3. Klub yang masih bergantung pada APBD ini berhasil melaju hingga babak regional Jawa.

Musim ini, Persikasi yang sebenarnya telah lolos ke regional Jawa rupanya tetap tampil positif di babak semi final. Pada leg 1, Persikasi berhasil menang 1-0 saat menjamu Perses di Stadion Wibawa Mukti. Tim berjuluk Bendo Item ini kembali unggul saat bertandang ke Sumedang dengan kedudukan 2-3.

BACA JUGA: Satgas Mafia Bola Tangkap Tiga Manajemen Persikasi, Diduga Match Fixing

Hanya saja, kemenangan itu berbuah pahit setelah Satgas Anti Mafia Bola menemukan praktik match fixing pada klub yang diketuai langsung oleh Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja ini. Akankah skandal ini menghentikan tren positif Persikasi sekaligus memupus mim tampil di Liga 2 bahkan Liga 1?

Ketua PSSI Kabupaten Bekasi Hamun Sutisna mengaku menyesalkan atas adanya peristiwa dugaan penyuapan tersebut. Menurut dia, hal ini menjadi cambuk sekaligus evaluasi bagi persepakbolaan di Kabupaten Bekasi.

“Ini sebagai cambuk untuk PSSI Kabupaten Bekasi. Sebenarnya kami selalu menekankan pada klub, pada perangkat pertandingan maupun wasit agar tidak memihak pihak manapun. Namun dengan kondisi ini tentu harus menjadi evaluasi,” ucap dia.

BACA JUGA: Dugaan Pengaturan Skor Persikasi: “Praktik Pengurus Lama, Pemain Jadi Korban”

Diungkapkan Hamun, selain terkait penangkapan itu, pihaknya kini mendorong Persikasi agar terus bertarung dengan gigih pada lanjutan Liga 3. Saat ini, Persikasi telah memasuki babak regional Jawa Liga 3.

“Mudah-mudahan anak-anak (pemain) tidak down, mungkin para pemain tidak tahu, mereka main tinggal main. Namun yang jelas, pada lanjutan pertandingan mendatang tetap berjuang demi Kabupaten Bekasi,” ucap dia.

Hamun menilai, dengan kondisi ini, baik manajemen maupun tim kepelatihan harus mampu menjaga kondusivitas di dalam tim.

“Karena kasus hukum kita hormati saja, namun yang penting bagaimana menjaga kondusivitas tim, menjaga mental para pemain. Saya sendiri masih sangat optimis tren positif Persikasi masih berlanjut,” ucap dia.

Seperti diketahui, Satgas Anti Mafia Bola total enam pihak dalam kasus match fixing yang diduga terjadi dalam pertandingan babak semi final Liga 3 Jawa Barat menghadapi Perses Sumedang.

Keenam pihak tersebut di antaranya DSP yang bertindak sebagai wasit utama, DS (Komisi Penugasan Wasit Asosiasi Provinsi PSSI Jawa Barat), SHB (manajer tim Persikasi) serta HR dan BTR (manajemen tim). Satgas pun menangkap MR yang diduga sebagai perantara.

Saat ini Persikasi yang dikalahkan PSKC pada babak final bakal menghadapi perwakilan dari Jawa Tengah, yakni Perbas Banyuwangi. Ironisnya, pertandingan ini bakal digelar Kamis (28/11/2019), atau berselang dua hari pasca penangkapan. (try)***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *